RSS

Monthly Archives: May 2012

Scandinavian style design

Saya selalu tertarik dengan desain-desain skandinavian style, sangat keren. Kali ini saya mencoba untuk menulis article yang bertujuan untuk memberikan gambaran pengaruh dalam desain di daeran Negara-negara Nordic tersebut seperti yang ciprut pahami selama ini dan berharap kita juga bisa berbagi informasi pula mengenai hal ini. Skandinavia disini berarti Negara-negara eropa utara. Dari segi geografis, Skandinavia terdiri dari beberapa Negara diantaranya swedia, Denmark, finlandia dan norwegia. Secara kultural, Negara-negara ini adalah satu rumpun. Desain Skandinavia secara umum, juga berawal dari konteks sejarah seni rupa. Modernisme, realisme, Arts & Crafts movement, dan Art Nouveau/”Jugendstil” banyak mempengaruhi desain. Revolusi Industri, Perang Dunia ke-1 dan ke-2 juga sangat berpengaruh terhadap gaya desain yang lebih praktis, realistis, tegas dan bisa diproduksi massal. Dalam segi desain dideskripsikan dalam bentuk-bentuk yang lebih minimalais, dengan garis-garis sederhana yang bersih, skandinavian design juga memiliki sifat Highly functional, efektif, cantik dan tanpa perlu elemen berat, only what is needed is used, terinspirasi oleh alam dan iklim utara. Itu semua merupakan the basis of all design from early on. Para desainer skandinavia dipengaruhi oleh segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Dengan tradisi yang dimiliki, keahlian dan sumber daya yang terbatas [karena isolasi geografis], mereka memiliki pandangan social yang demokratis dan segala sesuatu yang dibuat harus bisa digunakan oleh semua orang. “Beautiful things that make your life better” merupakan konsep yang sangat di hormati. Desain Skandinavia sering disebut sebagai desain demokratis, karena tujuannya untuk menarik massa melalui produk yang dapat mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat. Ideology tersebut muncul dari institusi local seperti masyarakat yang terbentuk dalam “Swedish Society of Industrial Design”. Tujuan dari asosiasi tersebut adalah untuk mempromosikan desain yang bisa diakses dan dinikmati masyarakat umum. Event pameran pertamakali yang pernah diadakan untuk mempromosikan Scandinavian design adalah The Stockholm Exhibition pada tahun 1930, dimana fungsionalism berkembang, seniman dan perusahaan bersama-sama memamerkan produk terbaru mereka, yang akhirnya ide-ide secara bertahap berkembang menjadi prinsip-prinsip desain dan filosofi di Scandinavia dan memiliki efek internasional.  Beberapacontoh desain logo scandinavian ditahun 1960-1970 [link koleksi desain logo].   scandinaviandesign graphic [by Henning Gjerde]        Interior&furniture with scandinavian style [gambar diambil dari blog tetangga Page thirteen]

 
7 Comments

Posted by on May 21, 2012 in Art & Design

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Keterkaitan karakter masyarakat terhadap unsur desain di Jepang.

Lagi-lagi artikel dibuat dari pengalaman kerja yang sedang ciprut lakukan, kali ini ciprut ingin membahas tentang keterkaitan karakter masyarakat Jepang dengan selera desain masyarakat Jepang. Awalnya ciprut melakukan study literature tentang seluk-beluk Negara Jepang untuk mengetahui karakter masyarakat Jepang dari banyak aspek [Sosiologi, antropologis, demografis, dll], dari sini membuahkan acuan-acuan yang bisa diambil untuk konsep desain sebuah produk yang memiliki modern Japanese style.

Dari latar belakang aspek sosiologi dan demografis, Jepang saat ini merupakan negara yang memiliki karakter budaya urban-nya sendiri. Awalnya Jepang merupakan Negara yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani, namun karena muncul banyak aspek kebutuhan di kehidupan masyarakat Jepang saat ini, hal tersebut berpengaruh dengan terjadinya pergeseran budaya untuk beradaptasi dengan jaman yang lebih modern. Kebutuhan dalam kehidupan masyarakat urban di jepang menjadikan suatu tolak ukur tersendiri, hal ini terlihat dalam sikap konsumerisme masyarakat yang sebenarnya ‘hemat’ dan seimbang antara hiburan / kesenangan / kepuasan konsumen dan kebutuhan yang bersifat fungsi-guna yang mensuport kebutuhan hidup masyarakat di Jepang, sedangkan istilah sikap konsumerisme yang ‘hemat’ disini contohnya merupakan ketertarikan akan desain atau produk-produk yang hemat, sustainable, hemat dalam penggunaan material, Hemat dalam penataan ruang [tidak terlalu banyak menggunakan barang berukuran besar dalam ruang], hemat waktu [missal : dalam pengoperasian] dll.

Dengan sifat dasar masyarakat jepang yang pantang menyerah, pekerja keras, teliti dalam melakukan banyak hal, gemar membaca [keingintahuan yang besar] dan loyalitas yang tinggi menjadikan Negara jepang mudah mengikuti/beradaptasi pada perkembangan jaman di dunia saat ini, hal ini bisa jadi penyebab mengapa masyarakat Jepang sangat inovatif dalam menyelesaikan suatu masalah selain itu terlihat pula pada cepatnya memulihkan perekonomian saat pasca bencana besar yang terjadi di Negara Jepang. Jepang bukanlah Negara penemu, tapi orang jepang mempunyai kelebihan untuk memunculkan inovasi baru berdasarkan masalah yang muncul di kehidupan masyarakat terhadap produk yang sudah ada, seperti halnya sumpit, pemutar musik [walkman] atau alat transportasi yang lebih cepat dan murah. Contoh lainnya seperti membentuk buah semangka menjadi kotak merupakan inovasi yang cemerlang dibidang pertanian Jepang, karena inovasi ini bisa memecahkan permasalahan dalam pengemasan yang hemat ruang dan efisien.

Dibalik kehidupan budaya urban yang penuh dengan tuntutan akan kebutuhan tertentu dan masuknya pengaruh budaya barat yang terjadi di Negara-negara asia saat ini, jepang masih tetap mempertahankan budaya dan tradisi yang dimiliki secara turun-temurun dengan sedikit penyesuaian jaman. Budaya untuk menghargai atau menghormati orang lain dan alam sering kali dilakukan pada bermacam-macam budaya-tradisi pada setiap acara tertentu dan setiap musim yang menjadi kebiasaan masyarakat. Contohnya:

  • Tradisi merangkai bunga [Ikebana] dan tradisi minum teh [chanoyu] memiliki teknik yang syarat akan filosofi. Tradisi minum teh sendiri tidak hanya sekedar untuk menjamu tamu namun juga untuk menikmati keindahan alam. Tradisi dan kebudayaan tersebut mempengaruhi aspek estetika desain dan filosofi bentuk pada produk, bangunan arsitek dan interior yang mendukung, seperti ruang yang berkesan luas/terbuka, material alam yang natural, suasana relax dari suara-suara alam, dll.
  • Kebijakan Ryosai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif) masih dipegang teguh hingga sekarang. Kebijakan yang menetapkan posisi perempuan selaku manajer urusan rumah tangga dan perawat anak dirumah sedangkan sang ayah bekerja, tujuannya untuk menciptakan anak-anak bangsa yang lebih berkualitas, hal ini berpengaruh pula pada ergonomi desain produk.
  • Dengan latarbelakang aspek geografis jepang berupa Negara agraris, menuntut masyarakatnya untuk mampu hidup bersama dan bekerja secara harmonis antara satu dengan yang lainnya. Hal ini masih berpengaruh hingga sekarang, budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, tetapi 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “Rin-gi” adalah ritual dalam kelompok seperti membicarakan keputusan strategis.

Dari sedikit wacana diatas tentang karakter masyarakat Jepang saat ini, tak heran kalau desain-desain produk yang muncul sering kali memiliki unsur karakter sederhana/simplicity, bersih, natural, minimalist dan terkadang memiliki unsur craftmenship [menunjukkan kemampuan dalam ketelitian]. Seperti beberapa contoh dibawah ini:

 Sori Yanagi [Pioneer of Japanese industrial design]

 Isamu Noguchi [Artist of Sculpture, landscape architecture & furniture designer]

 Fumi masuda [Japanese Sustainable Designer, The Director of the EcoDesign Institute, A professor at the Design Department at Tokyo Zokei University]

 Masamichi katayama [Japanese interior designer]

 Tatsuo Yamamoto [Japanese furniture designer]

 
3 Comments

Posted by on May 8, 2012 in Art & Design

 

Tags: , , , , ,

 
%d bloggers like this: