RSS

Category Archives: Adventure & Traveling

Dibalik Keindahan Kawah Ijen

Puncak Kawah IjenAda yang bilang pegunungan adalah lingkungan paling kejam di bumi namun juga memiliki keindahan yang luar biasa, memiliki iklim yang sering berubah secara drastis dalam waktu yang cukup cepat, dan ketika berada di tempat yang semakin tinggi maka kehidupan juga semakin ‘berat’ dalam artian makin menipisnya udara unuk bernafas, terbatasnya ruang gerak dan penggunaan transportasi, serta terbatasnya kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Seolah semua itu merupakan hal yang wajar untuk standart hidup, dan pada kenyataannya ada banyak jutaan manusia yang memilih untuk hidup di pegunungan – pegunungan diseluruh bumi dengan berbagai macam alasan, entah untuk menemukan sebuah kedamaian atau untuk menemukan sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh bumi di daerah pegunungan tinggi yang biasa disebut ‘kekayaan alam’.

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman berencana untuk menikmati keindahan dan kesejukan udara pegunungan di Kawah Ijen, Kawah Ijen  berada di ketinggian 2.443 mdpl terletak di tiga kabupaten yaitu Situbondo, Bondowos dan Banyuwangi (berangkat dari Kota Bangil melalui jalur Bondowoso – Wonosari – Desa Sempol – Paltuding).

Mungkin memang benar istilah kalau “dibalik keindahan seringkali ada bahaya yang mengincar…..” begitulah perumpamaan untuk keindahan Kawah Ijen ini. Saya tidak bisa mengungkiri kalau pemandangan di pegunungan Ijen ini memang sangat indah, saya sangat menyukainya, bisa dibilang saya sudah terpesona olah keindahan dan kearifan alam di pegunungan Ijen ini. Gunung Ijen ini memiliki danau kawah yang menakjubkan berwarna hijau tosca. Kawah Ijen juga merupakan pusat danau kawah terbesar di dunia, yang bisa memproduksi 36 juta meter kubik belerang dan hidrogen klorida dengan luas sekitar 5.466 hektar , berdinding kaldera sitinggi 300-500m.

Untuk bisa masuk ke area camping ground Paltuding, para wisatawan diwajibkan membayar Rp. 5000 untuk tiket ijin masuk kawasan Kawah Ijen perjalanan ke Paltuding sebelum masuk di area camping ground kita disuguhi dengan pemandangan perkebunan balawan yang sangat luas berhektar-hektar. Sepertinya penduduk di desa sekitar mayoritas bekerja di perkebunan atau sebagai penambang belerang di kawah gunung Ijen. Seperti halnya Pak Jatim seseorang yang kita temui ketika hendak tracking ke puncak gunung Ijen sebelum matahari terbit. Pak Jatim adalah seorang penduduk di desa sekitar pegunungan Ijen, beliau merupakan penambang belerang di Kawah gunung Ijen, beliau harus 1 atau 2 kali naik turun gunung Ijen beserta penambang lainnya dan memanggul belerang seberat 70 – 120 kg setiap harinya melalui jalan yang curam untuk dijual ke pengepul belerang (1kg  belerang dihargai sebesar Rp. 650) tak heran kalu pundak para penambang belerang itu jadi besar dan mengeras (mungkin bisa disebut ‘punuk’) dan gigi yang keropos karena zat belerang, itu semua harus ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya meskipun ia tahu bahwa sebagai penambang belerang bisa  sangat berbahaya dan taruhannya adalah nyawa. Bagaimana bisa tidak… menghirup bau panas belerang sebentar saja sudah sesak  dan mata pedih apa lagi kalau harus menghirupnya tiap hari, sangat berpotensi terkena gas beracun dari asap belerang.

Tambang belerang kawah Ijen

Belerang

Bersama Sahabat di Puncak Ijen

Salam sehat dan ceria selalu. n_n

 
 

Tags: , , , , , , ,

Pendakian Gunung Lawu

Dalam rangka menikmati liburan, kita (ciprut & binti) berniat untuk mengajak beberapa teman untuk hiking ke puncak Hargo Dumilah di gunung Lawu di keiggian 3.265 Mdpl yang letaknya di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk saya sendiri, ini adalah kali kedua saya menikmati jalan berbatu di gunung ini. Event nostalgia buat saya, seketika teringat pendakian pertama saya di sini bersama teman-teman dari BPN kala itu, pengalaman yg sangat menyenangkan, seperti pendakian kali ini namun dengan teman dan cerita yang berbeda.

Cemoro Sewu

Perjalanan bermula dari kota Surabaya (03.40) menuju kota Magetan (09.30) dengan berkendara motor. Jalur tracking favorit para pendaki Gunung Lawu ada dua, Cemoro Kandang dan Cemoro sewu, kita memilih jalur Cemoro Sewu dengan kondisi jalan berbatu yang ditata rapi seperti tangga namun lumayan melelahkan, selain itu juga karena waktu perjalanan bisa lebih pendek. Setelah memarkirkan kendaraan disekitar pintu gapura Cemoro Sewu, Tracking dimulai dari pos perijinan di Cemoro Sewu. Melewati jalan setapak yang dikelilingi pohon pinus dan lahan wortel milik masyarakat sekitar hingga sampai d pos 1 pukul 10.45, untuk pendaki yang capek bisa istirahat di sini sebentar. Diantara pos perijinan dan pos 1 terdapat pos bayangan yang memiliki sumber air bersih, biasanya para pendaki yang sudah turun gunung mengambil air dari sumber ini ketika kehabisan persediaan air. Namun satu hal yang sangat disayangkan disetiap pos yang seharusnya nyaman untuk tempat istirahat dan menghirup sejuknya udara pegunungan ternyata yang ada sekarang kondisinya sangat memprihatinkan, tidak terawat dan sangat kotor, (maaf.. bisa dibilang hampir mirip tempat pembuangan sampah).

Pos 2 (kotor dan atap yang rusak)

Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan pemandangan yang mulai tampak menghijau khas pemandangan pegunungan dan sampai di pos 2 pukul 12.55, untuk yang sedang lapar dan kalau beruntung di sini terdapat warung yang menyediakan makanan dan minuman hangat… menyenangkan bukan?

Setelah istirahat sebentar untuk meluruskan kaki sejenak dan membuka bekal makanan kita, perjalanan dilanjutkan menuju pos 3. Jalur yang dilalui masih berupa jalan setapak berbatu disebelah dinding-dinding tebing berbatu… pemandangannya oke banget dah. Pukul 14.45 sampai di pos 3.

Setelah istirahat 10 menit di pos 3, perjalanan dilanjutkan sampai pos 4 pukul 16.40 udara sudah mulai dingin dan hujan gerimis mulai turun namun tetap kita lanjutkan dengan memakai jas hujan yang kita bawa masing-masing karna berharap tidak akan kemalaman sampai di pondok Hargo Inggil nantinya. 10 menit kemudian dalam perjalanan menuju pondok Hargo Inggil yaitu pukul 16.50, kita memutuskan untuk istirahat dan membuka tenda dome kami di tepi jalan setapak dengan pemandangan yang sangat menakjubkan di malam harinya… dingin.. itu sudah pasti, tapi kita punya teh dan kopi cocok untuk menemani kita bercengkrama bersama dalam hangatnya secangkir kopi dan teh hangat… nikmat sekali.

Sanrise Puncak Lawu

Untuk mengejar sunrise di puncak gunung Lawu – Hargo Dumilah, sengaja kita rencanakan untuk bangun lebih awal, pukul 03.25 pagi setelah packing semua barang dan peralatan, kita melanjutkan perjalanan hingga nyampek puncak pukul 05.10, tedikit terlambat memang, itu karena kita sangat menikmati pemandangan di perjalanan ini jadi sangat santai sekali dan kita sengaja tidak mampir ke pondok Hargo Inggil. Setelah sampai,  suasana di puncak gunung Lawu saat itu sudah penuh dengan kelompok pendaki lain, maklum lah dalam pendakian kita kali ini berbarengan dengan hari 1 Sura (tahun baru dalam kalender Jawa) jadi banyak kelompok peziarah yang akan melakukan kegiatan spiritual khusus seperti meditasi atau hanya sekedar mengirim doa. Tak’apa lah yang penting kita sudah bisa bernafas lega, menghirup udara puncak pegunungan di pagihari yang segar dan inilah waktunya untuk bernarsis riaaaa… Horeeee!!! Puncaaaakk!!!

Puncak Lawu - Hargo Dumilah

Anggota pendakian:

  • Citra-Ciprut
  • Binti
  • Faruq
  • Arif
 
2 Comments

Posted by on March 23, 2013 in Adventure & Traveling

 

Tags: , , , , , , , ,

Petualangan di Taman Nasional Meru Betiri [Part2]

Sukamade resort

Aji mumpung ada hari lenggang di sabtu-minggu, tiba-tiba sahabatku (Risang Serano) ngajak berpetualang ke Taman Nasional Meru Betiri untuk yang kedua kalinya, namun kali ini dengan tema yang berbeda yaitu ‘Fun Offroad’ bersama teman-temannya di komunitas Landrover dari kota Malang ‘KALDERA Adventure’. Dulu ditahun 2009 saat pertama kali kita berpetualang ke Taman Nasional Meru Betiri dengan tanpa menggunakan kendaraan pribadi, saat itu kita sempat jalan kaki sekitar 40Km melewati desa-desa, perkebunan coklat, hutan lindung dan susur pantai karena kendaraan menuju Sukamade sangat jarang dan hanya ada di hari-hari tertentu saja, pada waktu itu kita juga sempat numpang truk sembako untuk warga desa di Sukamade yang hanya berhenti sampai jembatan roboh sebelum masuk daerah Sukamade karena air sungai naik saat turun hujan. Pengalaman pertama itulah sebagai bekal kita untuk berpetualang disana lagi untuk yang kedua kalinya ini.
Jumat malam kita berkumpul di perumahan Araya – Malang, markas KALDERA Adventure, berupa garasi mobil untuk Landrover dan kendaraan offroad lainnya, disana sudah ada beberapa teman dan Landrover lainnya yang sudah siap untuk ber-adventure-ria. Hampir tengah malam perjalanan dimulai. Taman Nasional Meru Betiri bisa dicapai melalui 2 jalur [Jember & Banyuwangi]. Dari kota malang kita melewati Ranu Pane – Lumajang – Jember – Glenmore – Sarongan – Sukamade. 103Km dari kota Jember.
Dalam pemanfaatannya, Taman Nasional Meru Betiri dibagi menjadi 5 zona. [1] Zona inti : zona yang mutlak dilindungi dalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia. Kegiatan yang diperbolehkan pada zona ini hanya yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penelitian. [2] Zona rimba : untuk wisata alam terbatas, [3] Zona pemanfaatan intensif : seperti pada pantai Rejegwesi, Pantai Bandealit, dan pantai Sukamade yaitu sebagai pusat pembangunan sarana/prasarana dalam rangka pengembangan kepariwisataan alam dan rekreasi, [4] Zona rehabilitasi : sebagai tempat kegiatan rehabilitasi yang sudah rusak akibat perambahan. [5] Zona pemanfaatan khusus : sebagai area yang ditujukan untuk mengakomodir kepentingan perlindungan dan pelestarian taman nasional, wisata alam dan wisata agro.
Ujung perjalanan kita adalah pantai Sukamade yang masuk dalam zona pemanfaatan intensif dan zona rimba. Sukamade merupakan pusat penangkaran anak penyu/tukik yang merupakan satwa liar dilindungi. Setelah perjalanan panjang yang lumayan melelahkan, kita mendirikan tenda untuk beristirahat disini, adapun fasilitas yang ada di pusat penangkaran selain Bak pembesaran tukik / anak penyu ini adalah Kantin / Warung, Mushola , MCK, Camping ground, Genset, & Solar cell. Pada pagi hari kita ikut melepaskan ratusan tukik penyu ke lautan dan bersantai di pantai Sukamade serta mengamati puluhan macaca & lutung yang mendekati tenda kita.

Pantai Sukamade[Photo by Shanon Potret]

Tukik penyu Jeger community Istirahat di Ranu Pane Offroad malam [Alas Wangi] Offroad Sungai Check mesin & mogok adalah hal wajib dalam petualangan ini

Sore hari kita sampai di pantai Rejegwesi yang berombak relative kecil dibanding pantai selatan lainnya. Menikmati suasana sunset, tak lama kemudian ada yang tidak tahan untuk mencoba cipratan air laut di pantai ini dengan menggunakan LandRover, namanya juga offroad, segala medan terjal dan tak biasapun pasti diterjang begitu juga dengan pasir pantai di Rejegwesi ini.

Offroad pantai [Pantai Rejegwesi] [Photo by : Shanon Potret]

 
 

Tags: , , , , , ,

Menengok Goa Jepang [Kaliurang-Yogyakarta]

Kaliurang sebenarnya adalah kawasan wisata yang berada di lereng gunung Merapi, disana terdapat Tlaga, air terjun, juga kawasan wisata keluarga lainnya, namun yang menarik perhatian saya adalah Goa Jepang yang ternyata untuk mencapainya kita harus tracking menyusuri jalan-jalan setapak berbatu yang dikelilingi pepohonan rimbun dilereng bukit sejauh 1100 meter. Dan hampir disetiap tikungan jalan setapak dijumpai kendi-kendi untuk tempat berendam bagi amfibi-amfibi yang hidup disekitar sana, hal ini merupakan satu tindakan konservasi yang bagus untuk kelestarian fauna andemik disana.

kolam amfibi 

Goa Jepang ini bukanlah goa alami yang memiliki stalagmit atau stalaktit. Menurut pak Dasri [juru kunci], Goa Jepang ini adalah sisa peninggalan masa penjajahan Jepang yang dikerjakan oleh rakyat Indonesia secara paksa [kerja romusa] tahun 1942-1945, terdiri dari 25 goa yang berjajar sepanjang jalan setapak berliku-liku di sisi kanan bukit Plawangan, jika perjalanan dilanjutkan sampai puncak bukit, disana terdapat menara pantau yang bisa melihat landscape kota Jogja yang saat ini digunakan untuk memantau aktivitas gunung Merapi. Sangat cocok untuk pecinta olahraga alam terbuka seperti saya ya.

Namun sungguh sangat disayangkan, saya menjumpai beberapa lubang goa dengan banyak coretan dimana-mana, di setiap dinding sampai di bebatuan dalam goa.

Jalan setapak berbatu DSC_0319

Jalan setapak menuju Goa Jepang.

Pintu Goa Jepang Dinding Pintu Goa Jepang

Masa perang dan penjajahan sudah usai, kini tak ada lagi senjata yang disimpan disini, tak ada timbunan makanan untuk tentara perang, tak ada pula pekerja romusa disini, yang ada hanya ruang-ruang goa dengan dinding yang lembab dan berlumut, tempat ini telah menyimpan begitu banyak cerita sejarah masa penjajahan Jepang.

Mulut goa DSC_0333

Note :

  • Jarak 30 menit dari pusat kota Jogja
  • Tiket masuk Rp. 2.000/org
  • Tutup untuk wisatawan diatas jam 16.00
  • Terimakasih banyak untuk teman jalan-jalanku kali ini, Chandra aka Wilis Ijo
 
 

Tags: , , , ,

Sejuk Pagi di Klaten – Rowo Jombor

Ciprut akui kalau Klaten ini sebenarnya memiliki tempat dengan suasana pedesaan yang lumayan asri. Sudah 2 tahun [2010-2012] Ciprut tinggal di Klaten, kebetulan Ciprut dapat pekerjaan di kabupaten kecil ini sebagai desainer di sebuah perusahaan furniture di daerah ini. Selama 2 tahun ini salah-satu yang menyenangkan adalah bersepeda pagi menyusuri sawah-sawah dengan beckground pegunungan [G. Merapi dan G. Merbabu], udara sangat sejuk, berbarengan dengan pemandangan para petani yang kompak menggarap sawah, barisan hiruk-pikuk bebek yang lucu membuat suasana jadi menyenangkan, sampai akhirnya finish di tempat wisata Rowo Jombor yang letaknya sekitar 8 Km dari pusat kota Klaten.

  Derap langkah para pasukan bebek mencuri perhatianku.

Rowo Jombor adalah sebuah rawa/waduk dengan luas 198 ha dengan kedalaman sekitar 4,5 m dan dilatarbelakangi dengan jajaran bukit dan gunung kapur. Saat ini Rowo Jombor dijadikan salah satu tempat wisata Kab. Klaten yang terletak di desa Krakitan, Kec. Bayat. Awalnya fungsi utama Rowo Jombor ini adalah sebagai sumber irigasi pertanian di wilayah Klaten, namun lambat laun terjadi pergeseran fungsi sebagai wisata keramba ikan dan warung apung, sayangnya hal inilah yang jadi indikasi sebagai penyebab meningkatnya sedimentasi di dasar rawa itu.

 
1 Comment

Posted by on September 7, 2012 in Adventure & Traveling

 

Tags: , , , , , , , , ,

Gunung Wilis Jalur Kediri – Mojo

 Pada Juni 2012 Ciprut bersama beberapa teman refreshing ke Gunung Wilis. Pendakian Gunung Wilis dari Kab. Kediri bisa melalui Kec. Mojo lebih tepatnya daerah Besuki. Di daerah ini terdapat wisata alam berupa Air Terjun, salah satu diantaranya Air Terjun Dolo, sayangnya kita tidak bisa menyempatkan diri untuk pergi ke wisata Air Terjun Doho tersebut karena waktu yang dirasa tidak memungkinkan. Kawasan Gunung Wilis berupa perbukitan dengan puncak paling tinggi adalah 2552 Mdpl, keadaan alam di kawasan Gunung Wilis masih terbilang sangat asri, disini ada beberapa jenis flora yang dilindungi seperti edelweiss, anggrek, beberapa jenis fauna liar seperti kumpulan primata, spesies burung, dan beberapa hewan liar lainnya. Namun, kurang ketatnya pengawasan dari Dinas Kehutanan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan membuat beberapa oknum jadi leluasa untuk berburu dan menganggu habitat tanaman dan hewan-hewan liar tersebut.

Perjalanan hari pertama tujuan kita adalah Ngebrak sebagai pos utama untuk kita bermalam. Pukul 14.30 kita start perjalanan dari Gazebo melalui jalan setapak. Jalur diawal perjalanan sangat bersahabat karena tidak begitu curam, namun di titik-titik tertentu ada jalur yang rusak karena tanah yang longsor, untuk melaluinya kita diwajibkan untuk melewati batang kayu tumbang dan licin, tidak ada cara lain untuk melewatinya selain dengan bantuan tali yang kita bawa.

Pukul 15.30 kita sampai di Lemah Kuning untuk istirahat sejenak, tempat ini berupa dataran dengan tanah yang berwarna kuning, kalau mau membuka tenda di sini bisa muat sekitar 2 tenda dome, namun dari sini sudah mulai dijumpai hewan kecil penghisap darah kotor yaitu ‘Pacet’ [sejenis lintah namun lebih kecil].

Setelah istirahat sejenak kita lanjutkan perjalanan menuju Pathok Wesi, dalam perjalanan kita bisa menjumpai 3 sumber mata air jernih yang bisa kita minum langsung. Sampai di Pathok Wesi sekitar pukul 16.45, Pathok Wesi merupakan punggungan yang diapit dua jurang. Dahulu disini terdapat pagar dari besi untuk melindungi pendaki agar tidak terjerumus ke jurang namun pagar besi itu sekarang sudah tidak ada lagi.

 

Pukul 17.30 kiita sampai juga di Ngebrak, untuk mencapai pos Ngebrak dari Pathok Wesi kita harus melalui jalan setapak menurun, melewati pos/gubuk pemburu, menyebrangi sungai kecil, serta menaiki sedikit tanjakan menuju punggungan Ngebrak, pos tempat kita bermalam ini lumayan luas dan pemandangannya indah sekali, di malam hari kalau kita beruntung kita bisa melihat pemandangan langit yang bertabur bintang, indah sekali. Disinilah saat dimana semua rasa capek dan kepenatan serasa menguap bersama uap kopi panas yang Ciprut minum dan menu jamur tumis hangat bikinan Binti yang kita santap bersama malam itu. Nikmat sekali.

Pagi hari ciprut bangun kesiangan karena malam harinya sempat tidak bisa tidur karena mules kebanyakan minum kopi….. hahahahaha. Walhasil jadwal muncak gunung Wilis mundur beberapa jam, setelah sarapan dan packing perlengkapan diputuskan yang akan ke puncak Wilis hanya kita bertiga [Ciprut, Binti, mas Dwin] dan yang lain menunggu di Pathok Wesi. Untuk menuju puncak Wilis kita harus kembali ke persimpangan Pathok Wesi, dari sini jalur sangat curam dengan kemiringan sekitar 80derajad [kondisi medannya seperti jalur menuju puncak G. Arjuno dari Spilar] ditambah lagi banyaknya rumput lebat setinggi tubuh manusia [diantaranya rumput merak] yang menutupi jalan setapak. Setengah perjalanan menuju puncak, medan bertambah menantang/berbahaya, hal ini membuat perjalanan semakin lama dan mengingat perhitungan waktu yang dibutuhkan dirasa tidak mencukupi dan kabut mulai turun maka kita putuskan untuk tidak melanjutkan ke puncak, dari sinilah kita menjumpai jaring panjang dari senar yang dipasang seseorang untuk menangkap burung [atau apa saja yang bisa terjaring]. Sangat disayangkan di kawasan hutan sebagai habitat beberapa species hewan lidung ternyata masih saja dijumpai banyak pemburu.

  

Setelah perjalanan turun gunung yang melelahkan, sekitar pukul 15.00 kembali kita beristirahat di Gazebo, disini tedapat warung pinggir jalan yang menyajikan menu unik yang belum pernah Ciprut makan…. Menu apakah itu?? ‘Nasi Goreng Tiwul’ ini menu nikmat khas pos Gazebo Gunung Wilis, nikmat sekali dan sangat recommended, apalagi dengan pemandangan tebing batu yang tinggi dan menakjubkan. Keren sekali, liburan di Kediri ini sangat menyenangkan.

Personil Pendakian Gunung Wilis jalur Kec. Mojo – Doho

  • Mas Dwin [Penunjuk Jalur – Besuki]
  • Mas Suyanto [Kediri]
  • Irwin [Kediri]
  • Hui [4 tahun – putrid Mas Yanto & Irwin]
  • Binti M. [Kediri]
  • Cprut [Bangil-Pasuruan]
 
24 Comments

Posted by on July 18, 2012 in Adventure & Traveling

 

Tags: , , , , ,

Gunung Kelud [Stratovolcano]

Awalnya ngiler melihat foto panorama gunung kelud di FB temen ciprut [Binti]. Akhirnya hari minggu tanggal 18 maret 2012 kemaren ciprut diajak jalan-jalan ke sana. Seru juga liburan kali ini. Dari Klaten ciprut berangkat jam 17.00 naik bis menuju Bra’an-Kertosono jam  22.30, disana ciprut udah janjian sama temen-temen yang berangkat dari Surabaya dengan mobil pribadi, tujuan kita adalah kota Tahu Poong [Kediri-Ngadiluwih], disana kita bermalam dirumah temen ciprut [Suyanto-Irwin]. Jam 11.33 kita mulai berangkat dari Kediri dan sampai di G. Kelud jam 13.30.

Tiket masuk ke kawasan G. Kelud sekarang ternyata naik dua kali lipat dari sebelumnya [Rp. 10000] tapi ini masih termasuk murah. Meskipun  sudah siang tapi udara masih terasa segar namun kita harus berhati-hati karena jalur yang kita lewati rawan longsor dan terdapat ‘Jalan Misterius’, konon katanya ketika melewati jalan ini tanpa menyalakan mesin kendaraan akan melaju dengan sendirinya kearah tanjakan, saya rasa lokasi itu terdapat medan magnet tertentu.

Gunung Kelud berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri dengan ketinggian 1.731 Mdpl. Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut yang berarti “sapu” dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut,ClootKloet, atau Kloete). Gunung ini termasuk dalam ‘Cincin Api Pasifik’ dan masih aktif hingga sekarang. Sebelumnya G. Kelud memiliki danau dengan air berwarna biru/tosca di kawahnya… indah sekali, namun sejak tahun 2007 danau itu menghilang karena gunung ini kembali meningkat aktivitasnya dan membentuk sebuah anak gunung di tengah-tengahnya. Karena merupakan gunung yang masih aktif hingga sekarang G. Kelud memiliki sumber air panas. Favorit saya disini adalah pemandangan dinding tebingnya selain menakjubkan juga sering digunakan sebagai area panjat tebing. Kawasan G. Kelud juga sering digunakan sebagai olahraga jogging, lintas alam, dan bumi perkemahan bagi penggiat olahraga alam bebas.

Here are some photos of Kelud. I wish I could take a better picture.

 

 

 
6 Comments

Posted by on March 29, 2012 in Adventure & Traveling

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: