RSS

Tag Archives: Tracking

Dibalik Keindahan Kawah Ijen

Puncak Kawah IjenAda yang bilang pegunungan adalah lingkungan paling kejam di bumi namun juga memiliki keindahan yang luar biasa, memiliki iklim yang sering berubah secara drastis dalam waktu yang cukup cepat, dan ketika berada di tempat yang semakin tinggi maka kehidupan juga semakin ‘berat’ dalam artian makin menipisnya udara unuk bernafas, terbatasnya ruang gerak dan penggunaan transportasi, serta terbatasnya kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Seolah semua itu merupakan hal yang wajar untuk standart hidup, dan pada kenyataannya ada banyak jutaan manusia yang memilih untuk hidup di pegunungan – pegunungan diseluruh bumi dengan berbagai macam alasan, entah untuk menemukan sebuah kedamaian atau untuk menemukan sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh bumi di daerah pegunungan tinggi yang biasa disebut ‘kekayaan alam’.

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman berencana untuk menikmati keindahan dan kesejukan udara pegunungan di Kawah Ijen, Kawah Ijen  berada di ketinggian 2.443 mdpl terletak di tiga kabupaten yaitu Situbondo, Bondowos dan Banyuwangi (berangkat dari Kota Bangil melalui jalur Bondowoso – Wonosari – Desa Sempol – Paltuding).

Mungkin memang benar istilah kalau “dibalik keindahan seringkali ada bahaya yang mengincar…..” begitulah perumpamaan untuk keindahan Kawah Ijen ini. Saya tidak bisa mengungkiri kalau pemandangan di pegunungan Ijen ini memang sangat indah, saya sangat menyukainya, bisa dibilang saya sudah terpesona olah keindahan dan kearifan alam di pegunungan Ijen ini. Gunung Ijen ini memiliki danau kawah yang menakjubkan berwarna hijau tosca. Kawah Ijen juga merupakan pusat danau kawah terbesar di dunia, yang bisa memproduksi 36 juta meter kubik belerang dan hidrogen klorida dengan luas sekitar 5.466 hektar , berdinding kaldera sitinggi 300-500m.

Untuk bisa masuk ke area camping ground Paltuding, para wisatawan diwajibkan membayar Rp. 5000 untuk tiket ijin masuk kawasan Kawah Ijen perjalanan ke Paltuding sebelum masuk di area camping ground kita disuguhi dengan pemandangan perkebunan balawan yang sangat luas berhektar-hektar. Sepertinya penduduk di desa sekitar mayoritas bekerja di perkebunan atau sebagai penambang belerang di kawah gunung Ijen. Seperti halnya Pak Jatim seseorang yang kita temui ketika hendak tracking ke puncak gunung Ijen sebelum matahari terbit. Pak Jatim adalah seorang penduduk di desa sekitar pegunungan Ijen, beliau merupakan penambang belerang di Kawah gunung Ijen, beliau harus 1 atau 2 kali naik turun gunung Ijen beserta penambang lainnya dan memanggul belerang seberat 70 – 120 kg setiap harinya melalui jalan yang curam untuk dijual ke pengepul belerang (1kg  belerang dihargai sebesar Rp. 650) tak heran kalu pundak para penambang belerang itu jadi besar dan mengeras (mungkin bisa disebut ‘punuk’) dan gigi yang keropos karena zat belerang, itu semua harus ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya meskipun ia tahu bahwa sebagai penambang belerang bisa  sangat berbahaya dan taruhannya adalah nyawa. Bagaimana bisa tidak… menghirup bau panas belerang sebentar saja sudah sesak  dan mata pedih apa lagi kalau harus menghirupnya tiap hari, sangat berpotensi terkena gas beracun dari asap belerang.

Tambang belerang kawah Ijen

Belerang

Bersama Sahabat di Puncak Ijen

Salam sehat dan ceria selalu. n_n

Advertisements
 
 

Tags: , , , , , , ,

Menengok Goa Jepang [Kaliurang-Yogyakarta]

Kaliurang sebenarnya adalah kawasan wisata yang berada di lereng gunung Merapi, disana terdapat Tlaga, air terjun, juga kawasan wisata keluarga lainnya, namun yang menarik perhatian saya adalah Goa Jepang yang ternyata untuk mencapainya kita harus tracking menyusuri jalan-jalan setapak berbatu yang dikelilingi pepohonan rimbun dilereng bukit sejauh 1100 meter. Dan hampir disetiap tikungan jalan setapak dijumpai kendi-kendi untuk tempat berendam bagi amfibi-amfibi yang hidup disekitar sana, hal ini merupakan satu tindakan konservasi yang bagus untuk kelestarian fauna andemik disana.

kolam amfibi 

Goa Jepang ini bukanlah goa alami yang memiliki stalagmit atau stalaktit. Menurut pak Dasri [juru kunci], Goa Jepang ini adalah sisa peninggalan masa penjajahan Jepang yang dikerjakan oleh rakyat Indonesia secara paksa [kerja romusa] tahun 1942-1945, terdiri dari 25 goa yang berjajar sepanjang jalan setapak berliku-liku di sisi kanan bukit Plawangan, jika perjalanan dilanjutkan sampai puncak bukit, disana terdapat menara pantau yang bisa melihat landscape kota Jogja yang saat ini digunakan untuk memantau aktivitas gunung Merapi. Sangat cocok untuk pecinta olahraga alam terbuka seperti saya ya.

Namun sungguh sangat disayangkan, saya menjumpai beberapa lubang goa dengan banyak coretan dimana-mana, di setiap dinding sampai di bebatuan dalam goa.

Jalan setapak berbatu DSC_0319

Jalan setapak menuju Goa Jepang.

Pintu Goa Jepang Dinding Pintu Goa Jepang

Masa perang dan penjajahan sudah usai, kini tak ada lagi senjata yang disimpan disini, tak ada timbunan makanan untuk tentara perang, tak ada pula pekerja romusa disini, yang ada hanya ruang-ruang goa dengan dinding yang lembab dan berlumut, tempat ini telah menyimpan begitu banyak cerita sejarah masa penjajahan Jepang.

Mulut goa DSC_0333

Note :

  • Jarak 30 menit dari pusat kota Jogja
  • Tiket masuk Rp. 2.000/org
  • Tutup untuk wisatawan diatas jam 16.00
  • Terimakasih banyak untuk teman jalan-jalanku kali ini, Chandra aka Wilis Ijo
 
 

Tags: , , , ,

Gunung Wilis Jalur Kediri – Mojo

 Pada Juni 2012 Ciprut bersama beberapa teman refreshing ke Gunung Wilis. Pendakian Gunung Wilis dari Kab. Kediri bisa melalui Kec. Mojo lebih tepatnya daerah Besuki. Di daerah ini terdapat wisata alam berupa Air Terjun, salah satu diantaranya Air Terjun Dolo, sayangnya kita tidak bisa menyempatkan diri untuk pergi ke wisata Air Terjun Doho tersebut karena waktu yang dirasa tidak memungkinkan. Kawasan Gunung Wilis berupa perbukitan dengan puncak paling tinggi adalah 2552 Mdpl, keadaan alam di kawasan Gunung Wilis masih terbilang sangat asri, disini ada beberapa jenis flora yang dilindungi seperti edelweiss, anggrek, beberapa jenis fauna liar seperti kumpulan primata, spesies burung, dan beberapa hewan liar lainnya. Namun, kurang ketatnya pengawasan dari Dinas Kehutanan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan membuat beberapa oknum jadi leluasa untuk berburu dan menganggu habitat tanaman dan hewan-hewan liar tersebut.

Perjalanan hari pertama tujuan kita adalah Ngebrak sebagai pos utama untuk kita bermalam. Pukul 14.30 kita start perjalanan dari Gazebo melalui jalan setapak. Jalur diawal perjalanan sangat bersahabat karena tidak begitu curam, namun di titik-titik tertentu ada jalur yang rusak karena tanah yang longsor, untuk melaluinya kita diwajibkan untuk melewati batang kayu tumbang dan licin, tidak ada cara lain untuk melewatinya selain dengan bantuan tali yang kita bawa.

Pukul 15.30 kita sampai di Lemah Kuning untuk istirahat sejenak, tempat ini berupa dataran dengan tanah yang berwarna kuning, kalau mau membuka tenda di sini bisa muat sekitar 2 tenda dome, namun dari sini sudah mulai dijumpai hewan kecil penghisap darah kotor yaitu ‘Pacet’ [sejenis lintah namun lebih kecil].

Setelah istirahat sejenak kita lanjutkan perjalanan menuju Pathok Wesi, dalam perjalanan kita bisa menjumpai 3 sumber mata air jernih yang bisa kita minum langsung. Sampai di Pathok Wesi sekitar pukul 16.45, Pathok Wesi merupakan punggungan yang diapit dua jurang. Dahulu disini terdapat pagar dari besi untuk melindungi pendaki agar tidak terjerumus ke jurang namun pagar besi itu sekarang sudah tidak ada lagi.

 

Pukul 17.30 kiita sampai juga di Ngebrak, untuk mencapai pos Ngebrak dari Pathok Wesi kita harus melalui jalan setapak menurun, melewati pos/gubuk pemburu, menyebrangi sungai kecil, serta menaiki sedikit tanjakan menuju punggungan Ngebrak, pos tempat kita bermalam ini lumayan luas dan pemandangannya indah sekali, di malam hari kalau kita beruntung kita bisa melihat pemandangan langit yang bertabur bintang, indah sekali. Disinilah saat dimana semua rasa capek dan kepenatan serasa menguap bersama uap kopi panas yang Ciprut minum dan menu jamur tumis hangat bikinan Binti yang kita santap bersama malam itu. Nikmat sekali.

Pagi hari ciprut bangun kesiangan karena malam harinya sempat tidak bisa tidur karena mules kebanyakan minum kopi….. hahahahaha. Walhasil jadwal muncak gunung Wilis mundur beberapa jam, setelah sarapan dan packing perlengkapan diputuskan yang akan ke puncak Wilis hanya kita bertiga [Ciprut, Binti, mas Dwin] dan yang lain menunggu di Pathok Wesi. Untuk menuju puncak Wilis kita harus kembali ke persimpangan Pathok Wesi, dari sini jalur sangat curam dengan kemiringan sekitar 80derajad [kondisi medannya seperti jalur menuju puncak G. Arjuno dari Spilar] ditambah lagi banyaknya rumput lebat setinggi tubuh manusia [diantaranya rumput merak] yang menutupi jalan setapak. Setengah perjalanan menuju puncak, medan bertambah menantang/berbahaya, hal ini membuat perjalanan semakin lama dan mengingat perhitungan waktu yang dibutuhkan dirasa tidak mencukupi dan kabut mulai turun maka kita putuskan untuk tidak melanjutkan ke puncak, dari sinilah kita menjumpai jaring panjang dari senar yang dipasang seseorang untuk menangkap burung [atau apa saja yang bisa terjaring]. Sangat disayangkan di kawasan hutan sebagai habitat beberapa species hewan lidung ternyata masih saja dijumpai banyak pemburu.

  

Setelah perjalanan turun gunung yang melelahkan, sekitar pukul 15.00 kembali kita beristirahat di Gazebo, disini tedapat warung pinggir jalan yang menyajikan menu unik yang belum pernah Ciprut makan…. Menu apakah itu?? ‘Nasi Goreng Tiwul’ ini menu nikmat khas pos Gazebo Gunung Wilis, nikmat sekali dan sangat recommended, apalagi dengan pemandangan tebing batu yang tinggi dan menakjubkan. Keren sekali, liburan di Kediri ini sangat menyenangkan.

Personil Pendakian Gunung Wilis jalur Kec. Mojo – Doho

  • Mas Dwin [Penunjuk Jalur – Besuki]
  • Mas Suyanto [Kediri]
  • Irwin [Kediri]
  • Hui [4 tahun – putrid Mas Yanto & Irwin]
  • Binti M. [Kediri]
  • Cprut [Bangil-Pasuruan]
 
24 Comments

Posted by on July 18, 2012 in Adventure & Traveling

 

Tags: , , , , ,

 
%d bloggers like this: